Minggu, 08 Mei 2016

INGIN BERTEMU TUHAN




Surabaya, bulan Dulkijah 1928. Hari sudah malam, angin laut berbondong-bondong ke daratan. Rasanya dingin sekali, sangat berbeda dengan siang hari yang terlampau panas. Di bawah temaram sentir, aku menulis ini dalam suasana duka. Tentang seorang sepuh, sahabatku. Engkau boleh memanggilnya Cak Dul, nama panjangnya Abdullah. Tubuhnya tinggi, dagingnya kurus, giginya tanggal hampir seluruhnya. Ia sumeh, murah senyum di mulutnya yang ompong. Seorang yang taat, lugu, lagi penyabar.


O, ya. Namaku Saipul, biasa dipanggil Ipul. Aku tinggal di salahsatu kota yang terkenal dengan triparit(nya), yakni kota yang memiliki nuansa tiga unsur: pemerintah, pengusaha, dan pekerja. Dan ketiga untur tersebut, juga dapat dibedakan menurut daerahnya. Pertama, unsur Barat. Dengan benteng-benteng megah serta rumah kolonial. Terletak disekitar Jembatan Merah dan Simpang, pusat kegiatan perdagangan dan ekonomi kota. Lokasi ini mulai tumbuh akibat dari politik pintu terbuka yang mengizinkan orang-orang Eropa datang dan menetap. Kelas menengah itu kemudian membangun tempat tinggalnya: berbagai fasilitas dan bentuk bangunan yang mirip dengan tempat asalnya di Eropa. Dan terciptalah lokasi ini dengan jalan aspal, lampu, air yang bersih, kendaraan, trem listrik, barak militer, rumah toko, tempat ibadah, dan kantor karesidenan. Pokoknya lengkap sekali.

Kedua, unsur Cina dan Timur Asing. Lokasi ini terletak di seberang Sungai Kalimas, sebelah timur kawasan Jembatan Merah. Chinezenwijk dan Chinezenkamp berada di kawasan Kembang Jepun, Kapasan, dan Pasar Atom. Biasanya bangunan di kawasan ini berupa rumah toko, rumah plesir (pelacuran), klenteng; semuanya didominasi warna merah dan semerbak wewangian dupa. Chinezenwijk dan Chinezenkamp dipimpin oleh seorang kepala yang disebut kapiten der Chinezen. Sedangkan Arabischenkamp dan Malaisenkamp, lain lagi. Terletak di sekitar Masjid Ampel. Nuansa agamis dan perdagangan, sangat terasa di tempat ini. Kedua lokasi itu (baca: Chinezenkamp dan Arabischenkamp) keadaannya memang tak sebaik milik Eropa, tapi masih bisa dikatakan layak.

Ketiga, yang terakhir, adalah penduduk pribumi, Inlander. Tinggal di tanah-tanah sisa, atau bermukim disebalik tembok gedung-gedung Eropa. Biasanya tempat ini adalah kampung-kampung kumuh, dan rumah yang dibangun seadanya. Ketiga unsur tersebut membentuk sebuah konfigurasi yang tidak seimbang secara sosial dan ekonomi, yakni sistem sosial yang sengaja diciptakan melalui ras sebagai bentuk ekspresi-spasial dengan sistem wilayah tinggal yang terpisah—semacam garis batas posisi ekonomi dan hubungan politis secara sosial. Diatur oleh perangkat kekuasaan yang dimiliki Gubernur Jenderal Hindia Belanda, yaitu perangkat represif-administratif yang bernama: Exhorbinate rechten, dengan alasan untuk menghindari konflik akibat heterogenitas suku, golongan, dan entis di Hindia.

O, ya...

Rumahku terletak tidak jauh di radius Masjid Ampel, kebetulan kakekku, Mbah Ta’i, adalah seorang pegawai karesidenan yang bergelar Kyai Nganten. Sebagai pribumi berdarah Jawa, nasibku boleh dikatakan sedikit lebih baik dengan tinggal di perkampungan orang-orang Arab dan Melayu. Artinya, keluargaku dikelompokkan sebagai golongan kedua, stratifikasi sosial setelah Eropa. Suasana kampungku memang agak sedikit ramai dengan rumah yang berdempet-dempetan, tapi tidak kumuh. Di pimpin seorang kapiten, Tuan Hasan, seorang yang budiman dan saudagar yang kayaraya.

Ya, nasibku memang sedikit beruntung.

Rumah keluargaku lumayan besar, cukup untuk menampung keluarga kecil kami: Kakekku (nenek sudah meninggal empat tahun yang lalu), Ayah, ibu, dan aku—seorang anak sematawayang.

Selain memiliki rumah yang cukup baik, kami juga memiliki pekerjaan yang baik pula.

Bapak dan ibuku seorang pedagang, memang tidak besar, tapi lebih dari cukup. Sedangkan aku, seorang pekerja di pelabuhan tanjung perak. Jabatanku lumayan, bukan pekerja kasar. Dan, jika membicarakan pekerjaan, aku jadi teringat seseorang. Orang yang sedari tadi ingin aku ceritakan,  ia salah seorang pekerja kasar di pelabuhan.

Ialah Abdulah, Cak Dul, seorang duda yang hidup sendirian di sebelah utara kota. Tekanan yang terus meningkat pada lahan di seluruh wilayah pedesaan Madura, tempat ia berasal, adalah alasan Cak Dul merantau ke Surabaya.

Awalnya ia tak tinggal permanen, hanya beberapa bulan saja untuk bekerja (di pelabuhan), khusus pada bulan-bulan sebelum panen tahunan di desanya. Cak Dul meninggalkan desanya dan hanya kembali pada hari-hari libur yang sangat jarang, yaitu untuk membantu panen, atau ketika sudah memiliki cukup uang dan hasilnya cukup untuk hidup di desa beberapa bulan. Tapi, setelah istrinya meninggal, ia memutuskan untuk tinggal di Surabaya, di gubuk barak milik mandornya—dekat pelabuhan. Berukuran empat kali delapan meter, dengan tinggi atapnya sekitar tujuh meter. Ditinggali sekitar dua puluh orang, atau tiga sampai empat puluh orang, termasuk Cak Dul. Aku berkenalan dengannya dalam sebuah peristiwa yang haru, satu tahun yang lalu.

Kekira bulan Dulkangidah 1927, ketika itu musim haji akan segera datang. Menurut kabar, negeri Hejaz dan Nejad yang dipimpin oleh Syarief Husin, baru saja jatuh ke tangan Ibnu Saud—dan kini berganti nama menjadi: Saudi Arabiyah. Tahun lalu, Tuan Tjokroaminoto dan Kyai Mas Mansur telah lebih dahulu melakukan Rihlah Hijaziyyah (perjalanan [di] tanah Hijaz). Sekembalinya dua tokoh besar itu, maka tersiarlah berita baik: bahwa negeri Hejaz aman untuk para pilgrims (jamaah haji) yang ingin menyempurnakan keislamannya. Dan jumlah pilgrims tahun ini, akibat berita dari dua tokoh itu, jadi meningkat drastis.

Ya, musim haji menjadikan kondisi pelabuhan berada pada puncak keramaiannya. Kongsi Tiga (Nederlandsch Stoomvart Maatschapij, Rotterdamche Lloyd, dan Ocen) atau yang dikenal sebagai Kapal Dines—merapat ke pelabuhan, menurunkan jangkar, menyiapkan diri. Sedangkan hari telah terik di atas ubun-ubun, aku menuju langgar untuk salat lohor. Tempat itu terletak di dekat kantor Syah Bandar, di tepi laut. Ketika hendak berwudhu, aku berpapasan dengan seorang sepuh yang tampak—barusaja menyumpal mocong-gentong air sesuci dengan tutupnya. 

Ia selesai, kini giliranku.

Setelah rampung membasuh seluruh wajah, tangan, rambut, telinga, dan kaki dengan air, aku menuju langgar. Ternyata lelaki tua itu sedang menungguku di dalam. Ia hanya seorang diri. Denganku, kini berdua.

“Silakan,” lelaki sepuh itu sambil mengarahkan ibujarinya ke arah depan, pengimaman. Beliau menawariku untuk menjadi imam.

“Tidak, silakan.” Aku menyentuh pundaknya, “bapak saja!” Kuucapkan—bersamaan dengan tanganku mempersilahkan kepadanya. Ia tersenyum ke arahku, lalu lelaki berdastar hitam itu menuju pengimaman.

Selesai. Empat rakaat mengalir begitu saja, syahdu sekali.

Setelah mengucapkan dua salam terakhir, beliau mengarahkan tangannya ke arahku. Kami bersalaman. Lalu ia membalikkan badannya lagi, wirid, kemudian menutupnya dengan do’a bersama. Aku masih setia mengikutinya, hingga selesai. Selepas do’a itu, aku mendengar lirih talbiah dari mulutnya: “labbaikallahumma labbaik, labbaika laa sayarikalaka labbaik... nyanyian cinta, syair-syair rindu ini kulantunkan lagi, Ya Allah. Bolehkah kiranya, aku yang melarat ini, pergi ke rumahmu, menemuimu, Ya Allah.”

Aku bergetar mendengar suara-samar dari mulut tua itu, walalupun kecil dan hampir tak terdengar, do'a yang ia panjatkan, menggema di dalam sanubariku. Ya, baru kali ini kurasakan cinta yang begitu agung, rindu yang dalam dan tak dibuat-buat. Ia sesenggukan, dan aku tak tega melihatnya. Aku keluar, menantinya di beranda.

“Maafkan saya, tuan. Telah mengganggu ibadah tuan.”

“O, sudah selesai bapak rupanya.”

“Nama saya Abdullah, sambil mengulurkan tangannya. ”Panggil saja, Dul.”

“Saya Saipul, panggil saja Ipul.”

Dan semenjak saat itu, kami jadi sering bertemu, setidaknya dua kali dalam sehari: lohor dan asar, di tempat yang sama. Hingga hampir genap satu windu kami beramah-tamah, aku sudah mula akrab dengannya:

“Cak, ada slametan di kampungku, walimatus-safar.”

“Alhamdulillah. Siapa yang hendak ke Makkah, Pul?”

“Tuan Hasan, saudagar kain.”

“Kapan acaranya, Pul?”

“Besok sore. Datanglah ke rumahku, nanti kita sama-sama ke sana.”

“Aku pasti datang, Pul. Insya Allah.”
***

“Kemarin kok tidak datang, Cak Dul?”

“Maklumlah, Pul, kuli tua sepertiku memang sering kedatangan penyakit encok mendadak. Ya, kadang lapar itu sangat perlu bagi mereka yang terlalu kekenyangan. Sakit juga begitu kan, Pul? O, ya. Tuan Hasan berangkat hari ini, kan?”

“Ini saya mau ke sana. Mau ikut?”

Cak Dul menagngguk, dan kami berjalan beriringan. Tak begitu lama, sampailah kami di rumah Tuan Hasan.

Pagi itu, langit tampak lebih terbuka dari biasanya. Warnanya biru, dan banyak sekali orang berkumpul di rumah Tuan Hasan. Rumahnya besar, satu pintu terletak di tengah yang berbahan jati. Kanan dan kirinya adalah jendela berjeruji besi. Berandanya juga besar, bertiang empat, berjubin bunga-bunga, dan ada meja bundar dan empat kursi di sebelah kiri. Halamanya cukup luas, mampu menampung kami yang tak begitu banyak jumlahnya. Sekitar tiga sampai empat puluh orang: laki-laki, perempuan, remaja dan anak-anak.

Cukup lama kami menanti, akhirnya Tuan Hasan keluar dari pintu—melewati beranda menuju halaman, kereta telah menunggu di depan. “Eh, itu sudah keluar,” kata salah seorang, dan seluruh kepala tertuju pada arah yang sama. Yang tadinya duduk, serentak berdiri, lalu mendekat mengerumini Tuan Hasan. Dari arah belakang, istri dan ketiga orang anaknya mengiringi dengan tangis sesenggukan—seperti tak rela melepaskan kepala keluarganya pergi. Ya, Pilgrimage (menunaikan ibadah haji) adalah perjalanan penuh dengan tantangan dan marabahaya. Sangat kecil kemungungkinan, dapat bertemu lagi. Banyak yang pergi, tapi hanya sedikit yang kembali. Begitu yang sudah-sudah.

Tuan Hasan menaiki kereta kudanya.

“Tuan... Tuan Hasan,” Cak Dul lari, muncul di antara kerumunan. Saat itu Tuan Hasan sedang sibuk—menanggapi para warga yang ingin bersalaman dengannya. “Tuan,” Cak Dul memperbaiki napasnya. “Nama saya, Dul. Apakah betul, jika do’a di Makkah, pasti terkabul?” Cak Dul masih ngos-ngosan.

“Insya Allah, Dul.” Jawab Tuan berkumis dan berjambang lebat itu, berwibawa.

“Bersediakah Tuan membawa do’aku serta?”

“Apa yang kau ingini, Dul?”

“Jika Tuan telah berhasil menyentuh kiswah, kain hitam penutup ka'bah itu, do’akanlah aku: agar dapat berkunjung ke rumahnya, dan bertemu denganNya. Bersediakah, Tuan?”

“Insya Allah, Dul. Kusertakan do’amu di sana.”

Belum lagi sempat ia ucapkan terimakasih, kusir menghentakkan pedati. Kuda bergerak, roda berputar, dan kereta itu menjauhi kerumunan. Tuan Hasan melambaikan tangan ke segala arah, kereta-kereta lain juga bergerak membuntuti di belakangnya. Satu persatu orang membubarkan diri, kecuali Cak Dul yang mematung dengan mata kekaca, rembes di seluruh hamparan matanya. A, terik matahari terasa dikepung mendung.

“Mari, Cak Dul.” kataku.

Lalu kami meninggalkan rumah Tuan Hasan yang sudah tampak sepi. Kami berdua menuju ke rumahku, kebetulan Cak Dul sedang libur, tak ada kerja.

Sampai.

“Mari, silakan duduk Cak Dul. Biar aku siapkan minuman dulu.”

Lalu, aku masuk ke dalam rumah, membuatkan minuman untuk kawanku yang berusia baya itu. Minuman yang sedang kubuat adalah ‘kobuk’, khas kampung sini. Bahannya dari serai, jahe, daun pandan, dan gula merah. Setelah sempurna bercampur dengan air, kuberi kerokan kelapa yang agak tua. Siap, aku membawa dua gelas minuman itu dengan beralas talenan berbahan logam. Kobuk, kini telah tersaji di atas meja tamu. Satu untukku, dan satu untuk Cak Dul.

“Silakan di minum, Cak Dul.”

Lelaki sepuh itu tak begitu memperhatikan seruanku. Cak Dul masih asyik—memperhatikan keadaan sekitar. “Enak ya, suasana di sini. Dekat dengan Masjid Ampel pula.” 

“Di sini banyak haji, Cak.”

“O, ya?”

“Iya. Dari dulu, orang sini banyak yang pergi ke Makkah. Apalagi sekarang, jumlahnya tambah banyak. Haji dulu lebih susah dari sekarang. Bisa memakan waktu tiga sampai empat tahun.”

“A, lama sekali, Pul? Sejauh itukah Makkah?”

“Begini, Cak. Pelayaran normal dari sini ke sana, seharusnya memakan waktu: lima hingga enam bulan saja. Itu dikarenakan, tidak ada kapal yang mengantar calon haji ke Makkah, yang berangkat dari Hindia Timur menuju tanah suci. Maka calon jemaah haji harus ke Singapura terlebih dahulu. Itu pertama. Kedua, tidak semua caloh jemaah haji memiliki bekal yang cukup untuk pergi ke tanah suci. Sebagian dari mereka yang tak berbekal cukup, bekerja di perkebunan terlebih dahulu, sebagai buruh perkebunan, di Singapura atau Penang. Itulah yang membuat lama.”

“O, begitu. Ya... ya... ya...”

“Tapi ada cerita lucu, Cak.”

“Apa itu?”

“Tidak semua orang yang bekerja di Singapura dan Penang itu, melanjutkan perjalanannya ke tanah suci. Ada juga di anatara mereka yang pulang ke Hindia Timur, lalu mendaku sudah pergi ke Makkah dan menyandangi dirinya gelar haji. Lebih baik Cak Dul begitu saja. Bekerja di Penang atau Singapura, pulang-pulang sudah bergelar haji.”

Dia beranjak dari duduknya, sambil menunjuk ke arah wajahku. “Pul, kamu bercanda? Agama jangan dibuat candaan.”

Baru saja ia duduk, langsung kusambut dengan jawaban.

“Cak, perlu sampeyan tahu, gelar haji yang sedang mereka kejar sesungguhnya berawal dari persaingan kerajaan-kerajaan di Nuantara yang mengirim utusan kerajaan ke Makkah untuk mencari pengakuan dan meminta gelar sultan dari tanah Arab. Sebab mereka menganggap, gelar yang dieroleh dari Makkah akan memberi dukungan secara spiritual terhadap kekuasaan kerajaan mereka. Baru pada tahun 1674, seorang pangeran Jawa pergi ke Makkah, dan sepulangnya berjuluk Sultan Haji. Ialah putra dari Sultan Ageng Tirtayasa, Abdul Qohar. Itu cikal-bakal, kenapa orang bangga disebut haji. Tak ada hubungannya dengan agama, murni karena staus sosial.

“Ah, aku pusing dengan penjelasanmu. Aku tak mengerti tentang semua itu. Intinya, aku hanya ingin bertemu dengan Tuhan di Baitullah, tidak ada niat lain. Titik.”

Diskusi semakin memanas.

“Hey Cak Abdullah, pernahkah kau mendengar hadist yang mengatakan: Al hajju Arafah, bahwa haji itu adalah wukuf di Arafah?”

“Tapi tetap saja, kan aku harus ke sana. Ke padang Arafah?”

“Kamu tahu, Cak Dul, ada hadis qudsy yang mengatakan: man arafa nafsahu faqod arafa robbahu? Sesiapa yang mengenal dirinya, niscaya akan mengenal Tuhan. Itu kan yang kamu cari? Tuhan, kan? Wukuf itu sama seperti samadhi: njerum, masuk ke dalam diri. Bukannya malah ke situ.”

“Itu kan hadist qudsy, bukan hadist sahih.”

“Ah, bagaimana orang tua ini. Kamu tahu, apa perbedaan hadist qudsy dan Al-qur’an? Kebenaran mereka itu hampir sama, hanya saja—hadis qudsy redaksinya berasal dari Nabi, sedangkan Al-qur’an langsung dari Tuhan.”

“Itu kan katamu, Pul, Saipul!”

“Lah, Abudullah. Bukan aku saja yang beranggapan semacam itu. Di daerah Kuningan, sebagian orang percaya: jika naik-turun sebanyak tigakali Gunung Ciremai, dianggap sama pahalanya dengan naik haji. Di Madura, tempat asalmu, sebagian orang percaya: jika ziarah ke Batu Ampar, itu pahalanya sama dengan yang ke tanah suci. Di Sulawesi Selatan, ada sebagian yang beranggapan: naik gunung Bawa Karaeng pada hari raya Idul Adha, itu sama dengan ibadah haji ke Makkah. Ngapain mereka di gunung? Tapa! Samadhi!”

“Pul,” lelaki tua itu berdiri, tapi kali ini dengan nada suara yang tidak tinggi. “Umurku sudah hampir habis, tak ada waktu untuk berpikir sepertimu. Begini yang diajarkan orangtuaku dan guru-guruku, aku tidak peduli itu benar atau salah. Kewajibanku hanya patuh kepadanya. Aku pernah muda sepertimu, sedangkan kamu belum pernah menjadi tua sepertiku. Aku datang ke sini, agar bisa menabung untuk perjalananku ke tanah suci. Menyempurnakan agamaku selagi aku masih hidup, dan mendoakan istriku yang telah tiada. Di umurku yang setua ini, apalagi yang hendak kucari?”

Setelah kalimat terakhirnya, dia pergi dengan menepuk pundakku. Lalu hilang di balik tembok-tembok rumah tetanggaku.
***

“Pada tahun 1869, terusan Suez dibuka. Dan ketika teknologi dan industri kapal uap sudah memasuki negeri Hinda, perjalanan ke Makkah sudah bisa ditempuh selama empatbelas hari saja, atau paling lama—tigapuluh hari, tergantung cuaca.”

“Eh, kamu, Pul. Sudah berapa lama kita tidak ketemu, Pul?”

“Lima bulan, Cak Dul.”

“Lama sekali Pul, heh?”

“Maafkan kejadian waktu itu, Cak. Maafkan aku yang masih muda ini, yang hanya tahu manis, kurang asam-garam.”

“Pul, cara memperbarui hubungan itu—ya dengan cara berselisih dan bertengkar. Kemudian, dua-duanya harus sama-sama melaluinya. Dengan cara itu, sebuah hubungan diperbarui.”

Kami berbicara menghadap pantai, tak saling bertatapan.

“O, ya, Pul. Teruskan cerita-ceritamu tantang haji.”

“Cak Dul masih ingat ceritaku tentang orang yang pergi ke Singapura untuk berkerja di perkebunan, tapi tidak melakukan perjalanan lajutan ke tanah suci—dan pulang ke Hindia Timur, memakai gelar haji?”

“Ya, ya... aku masih ingat. Bagaimana itu ceritanya?”

“Begini. Ada banyak sekali persoalan muncul selain yang kusebutkan tadi, antara lain: Satu, jumlah haji yang pulang lebih sedikit dibandingkan yang berangkat. Kedua, beredarnya sebuah faham politik-keagamaan: pan-islamisme, yang dikembangkan oleh para pemimpin muslim pada masa kerajaan Turki Usmani. Karena beberapa alasan itu, setiap haji yang pergi dan datang, dikenakan wajib-lapor kepada pemerintah setempat.”

“Jika ketahuan tidak pernah pergi haji, bagaimana, Pul?”

“Dikenakan denada, dan dilarang menyadang gelar haji.”

“Wah, banyak sekali masalahnya, Pul?”

“Iya. Karena persoalan-persoalan itulah, akhirnya pihak pemerintah memberikan kepercayaan kepada Kongsi Tiga atau Kapal Dines sebagai kepanjangantangan pemerintah untuk transportasi perjalanan haji. Tapi, keputusan itu berakibat pada biaya dan aturan yang semakin ketat: pemerintah tidak akan memberikan pas (pasport) jika menolak membayar f.110 untuk tiap pas. Dan mewajibkan para pilgrims—membawa bekal (uang) sedikitnya f.400 sampai f.500 untuk hidup selama di sana, untuk setiap orang.”

“Banyak sekali, Pul?”

“Iya, Cak. Sebab pilgrims tidak boleh membawa bekal sendiri: ikan asin, terasi, dan lain-lain. Makanan disediakan oleh Kapal Dines.”

“Ah, kenapa, Pul?”

“Makanan-makan itu, katanya, membawa wabah penyakit. Itu kenapa banyak haji yang meninggal dunia, dan sedikit yang  kembali.”

Cak Dul sepertinya agak bingung dengan penjelasan-penjelasanku. Ia tampak sedang menghitung sesuatu dengan jari-jari tangannya. Ia membuka ibujarinya dari kepalan, dengan pandangan mata yang kosong ke awang-awang—dan mulut yang tampak mengucapkan sesuatu namun tak bersuara. Lalu jari telunjuknya ia buka, jari tengah, jari manis, kelingking, lalu ibujari tangan sebelah kirinya, “Ah, cukup tidak ya umurku untuk menabung uang sebanyak itu, Pul?”

Aku tidak ingin menjawab pertanyaannya. Aku hanya memandang lelaki yang sedang menghadap ke laut itu, memandang dengan pandangan haru.

“Ya sudahlah,” ia mendekat ke arahku, lalu merangkul pundakku. “haji kan hanya bagi mereka yang mampu.”

“Aku bisa melatih Cak Dul berenang, kalau mau.”

“Buat apa, Pul?”

“Berenang ke Makkah, Cak.”

“Pul, jika umurku tidak cukup buat pergi ke sana, Allah pasti tahu, hatiku sudah lama sampai di situ. Sudah lama. Sangat lama.”

Dan itu adalah hempasan dari Cak Dul yang kesekiankalinya kepada hatiku. Aku dibikiannya diam, tak ada kata. Deburan ombak terasa sunyi, tak lagi terdengar suara apa-apa. Seakan hanya ada Cak Dul seorang di tempat sebegini luasnya. Kami berdiri, mematung, hingga senja berakhir dengan gelap. Sebelum akhirnya undur diri, aku menyampaikan kabar: Tuan Hasan telah pulang dari tanah suci. Aku mengundangnya, untuk menemui Tuan Hasan.
***

Hari berkunjung ke rumah Tuang Hasan, Cak Dul tidak datang. Entah, mungkin Cak Dul lelah—setelah seharian bekerja. Dan semenjak saatu itu, aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Ramadhan telah tiba. Empat bulan Cak Dul tak tampak di langgar pelabuhan. Menurut kabar, dia sedang sakit. Maka selepas bekerja, aku mengunjunginya di barak milik mandor tempat ia bekerja.

Aku sampai di sana, pas adzan maghrib. Kami berbuka bersama, teh manis hangat yang diseduh oleh tangan Cak Dul dan qurma yang kubawa dari rumah.

“Cak, kenapa tidak pulang saja ke Madura?”

“Keadaanku ini hanya akan merepotkan anak-anakku, Pul. O, ya. Maukah kamu mengantarkanku ke rumah Tuan Hasan?”

“Ada keperluan apa, Cak?”

“Nanti saja kuceritakan.”
***

Ba’da salat tarawih, keesokan harinya, Cak Dul mengunjungiku. Sudah tampak sehat, walau agak pucat. Sesuai rencana, kami menuju ke rumah Tuan Hasan.

“Mari... mari... silahkan duduk,” sambut Tuan Hasan, ramah.

Kami duduk.

“Ada keperluan apa, Pul?”

“Ini, Tuan. Saya mengantarkan teman saya. Katanya, ada keperluan dengan Tuan.” Aku sambil melihat ke arah Cak Dul, dan dia menganggukan kepala ke arah Tuan Hasan.

“O, begitu. Tuan siapa? Apakah sebelumnya kita pernah bertemu?”

Ia terkejut, darah pada wajahnya menunjukkan kekecewaan. Dengan nada yang sangat lemas, ia menjawab pertanyaan Tuan Hasan: “pernah, Tuan. Waktu itu Tuan hendak berangkat ke tanah suci. Sebelum kereta Tuan berangkat, saya orang yang memperkenalkan diri kepada Tuan—dan meminta agar dido’akan jika Tuan sudah sampai di Makkah.”

“O, ya. Saya ingat sekarang.”

Raut wajah Cak Dul tampak berubah, sumringah.

“Ada keperluan apa datang kemari, Dul?”

“Saya ingin bertanya, apakah Tuan sudah menyampaikan do’a saya di sana?”

“Astaghfirullah...”

Suasana tampak hening, dan penuh dengan penasaran juga kekecewaan. Aku dan Cak Dul saling memandang, Tuan Hasan menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Rasanya, kami ingin pulang saja. Terutama Cak Dul.

“Begini saja,” kata Tuan Hasan. “Janji adalah janji.” Nada Tuan Hasan terdengar menyesal. “Dul...”

“Saya, Tuan.”

“Betul kamu ingin ke tanah suci?”

“Sampai tulang sumsum-ku, Tuan.”

“Kau sudah siap, lahir dan batin?”

“Saya, Tuan.”

“Baiklah. Kalau begitu, kau berangkatlah. Semua biaya biar aku yang tanggung.”

“Betul, Tuan?.

Tuan Hasan mengangguk.

“Allahu Akbar!” Cak Dul beranjak dari duduknya, mencium tanah. “Labbaikallahumma labbaik, labbaika laa sayarikalaka labbaik,” gugunya begitu nyeri, “Ya Allah, akhirnya aku datang kepadamu. Inna al-hamda wa-an ni’mata laka wa-al mulk la syarika laka.”

Ia bangkit, mencium tangan Tuan Hasan. Lalu menyalamiku, menjabat dengan kedua tangannya. Setelah uluk salam, ia pamit undur diri. Berlari sambil berteriak: Labbaikallahumma labbaik, berulang-ulang. Aku sangat bahagia.

Waktu terus berjalan.

Satu setengah bulan kemudian, hari keberangkatan telah ditentukan. Cak Dul sudah sepenuhnya siap dengan pelbagai perlenglapan. Kapal itu mengangkut 140 penumpang, walau secara peraturan hanya untuk 100 orang. Tapi semua itu tak jadi soal, hari itu semua orang tampak bahagia, termasuk Cak Dul. Ia yang telah berada di atas kapal, melambai-lambaikan tangannya ke kepadaku. Peluit cerbong menyuling, raga Cak Dul menjauh, menyebrangi samudra.

Dan...

Beberapa hari setelah keberangkatan kapal Cak Dul, terdengar kabar bahwa kapal itu tenggelam. Semua penumpang kapal dinyatakan hilang.
***

Berita siang tadi, membuatku tak dapat tidur. Masih saja terkenang wajahnya, sahabatku, Cak Dul. Maka di bawah temaram sentir ini, aku menulis dalam suasana hati yang dikepung duka. Abdullah, menyeberangi samudera yang beribu-ribu mil jauhnya, hanya ingin menemuimu. Sampaikah ia kepadamu, Tuhan? Bukankah dalam hidup ini, tidak akan ada satu hal pun yang bakal hilang? Bukankah semua ini berasal darimu, dan akan kembali kepadamu? Sampaikah ia kepadamu, Tuhan? Sudah sampaikah ia kepadamu?

Sabtu, 07 Mei 2016

TIMUN MAS



Matahari bergerak lambat menuju senja, ampak-ampak kabut yang tadinya semburat, kini menyatu dalam latar langit yang kemuning. Bercak abu-bu warna awan, entah kenapa ada yang semi tiba-tiba. Apa yang sedang ia pikirkan? Rindu memang tak pernah bosan-bosannya turun menyertai gerimis, lalu hujan, benih ditebar menghampar, menghampirinya terus-terusan. Hujan memang masih air yang sama, yang dulu selalu ia sambut dengan sepenuh keriangan, dan kini dengan separuh, mungkin seutuh ketakutan. Rindu mungkin seperti baris berlapis yang putarannya menyesatkan: bila salah satu lapisan berhasil dipecah, maka yang lain akan mengepung. Dan terus-menerus akan selalu begitu. Ia menjebak siapa saja.



Rindu itu kini menimpa Timun Mas, perempuan yang pada suatu sore berdiri disebalik jeruji jendela. Ia selalu saja merasa ada yang terpenjara, walau bersikeras mencari—apa yang sedang membui batinnya? Sedangkan matahari lahan-per lahan tenggelam, menimbulkan gambar berlumut di dalam kepalanya. Sebagian besar, mengerak di dasar hatinya.

Seperti yang aku bilang tadi, Timun Mas adalah namanya. Bayi perempuan yang dulu pernah dipaksa—berdiam diri selama berwindu-windu di pusat sepi, di kesendirian. Timun Mas, bayi perempuan yang tumbuh di dalam menintimun geming ketuban. Sampai pada suatu waktu, ia merasa sebagai janin yang sendiri, dengan segenap kepercayaaan dan seganjil keadaan, di luar sana, ia percaya—pasti ada rindu bertumbuh untuknya. Siapa nyana, selain kedua orang tuanya, ada seorang raksasa yang juga menunggunya.

Hmmm... Timun Mas masih menyandarkan kepalanya pada jeruji besi jendela.

Di keheningan waktu yang jauh di belakang, ia memejam dan terus mengenang lelaki raksasa. Sedangkan dalam waktu yang hampir bersamaan, sepasang langkah kaki sedang menghampiri tubuhnya.

Lalu...

Di tengah renungnya, ia merasa ada tangan yang sedang melingkar di sekitar pinggangnya. Kemudian hidung yang menciumi bagian lehernya, juga terdengar udara yang berdesakan keluar dari lubang napas seseorang, serta bibir yang khas: sepasang bibir tipis yang pandai berbisik, dan lidah yang gampang berliur dan mudah basah.

Timun Mas hanya mengibas-ngibaskan lehernya. Merasa mendapatkan perlawanan lembut, tangan lelaki yang sedari tadi melingkar itu, kini melucuti buntalan wiru kain miliknya. Lalu, rambatan itu membuat senja yang memerah, tersa gelap dan samar-samar.

Entah bayangan apa yang sedang mengusik batinnya,  tubuh Timun Mas mendorong lelaki kekar itu dengan punggungnya. Tapi, tangan itu terus saja merayap ke arah bahu, kemudian membolak-balikkan badan Timun Mas. Tampaknya, berahi telah bertengger di pucuk ranting. Dengan segera, ia mendekatkan badan dan mengulum bibir Timun Mas. Terus, dan terus.

Timun Mas tak membalas. Sehelai gerakan pada bibirnya pun, tidak. Ia hanya memejamkan mata, dalam kesempitan, mungkin ia berusaha mengais-ngais ingatan-manis untuk melumuri bibirnya yang saat ini menjadi bulan-bulanan seorang pria.

Sudah beberapa lama bibirnya basah.

Akhirnya Timun Mas mendorong tubuh laki-laki itu lagi. Namun, ia ditarik kembali. “Mandilah dulu, kang. Kakimu masih penuh dengan lumpur-lumpur sawah. Sekujur tubuhmu penuh dengan peluh, dan beraroma ilalang.” Kata Timun Mas.

“Sebentar saja.” sambil menarik tangan Timun Mas, mendekat.

“Mandilah dulu, agar segar tubuhmu.” Timun Mas menarik tangannya kembali.

“Baiklah.”

Tak lama, laki-laki itu menjauh, hilang di balik dinding dan bilik bambu kamarnya. Sedangkan Timun Mas, merapikan apa-apa saja yang tergeletak di lantai. Membersihkan air-air yang menempel di lehernya, dagunya, dadanya, dan bagian-bagian di lintang pukangnya.

Selesai ia membasuh apa saja yang basah, perempuan emas itu menempelkan kepalanya di jeruji jendela lagi. Merindukan bapak dan ibunya yang sudah mulai sepuh, dan tinggal jauh, berpuluh-puluh desa dari tempat tinggalnya yang sekarang. Kini, Timun Mas telah menikah. Menikah dengan seorang pria yang belum ia kenal sebelumnya, pria pilihan ibu dan bapaknya. Ia dinikahkan setelah sebuah peristiwa.

Ya, selepas peristiwa besar di dalam hidupnya.

Peristiwa itu ia alami di sebuah desa, tempat ia dilahirkan. Tapi, jauh sebelum semua itu, syahdan di suatu masa yang nun, di sebuah desa yang subur tanahnya, jernih airnya dan sangat berlimpah, berjajar bukit-bukit barisan di setiap lekuk-liku jalan setapaknya, serta hijau di seluruh hamparan semestanya, jauh di pemukiman manusia, hiduplah sepasang raseksi dan raksasa. Berdua, mereka tinggal di dalam goa yang dikepung oleh hutan dan semak belukar. Pohonnya tinggi menjulang ke atas langit, hingga matahari pun enggan masuk di dalamnya. Akar-akarnya menyembul ke permukaan, setinggi pohon-pohon kelapa.

Konon, selayaknya manusia pada umumnya, kedua makhluk besar itu pemakan segala, termasuk daging-daging binatang. Mereka berburu hewan-hewan penghuni belantara. Sampai pada akhirnya, sepasang raksasa itu harus berbagi buruan dengan penduduk desa.

Hingga pada suatu waktu, jumlah fauna mulai berkurang. Akhirnya dua makhluk itu turun gunung, menyasar ternak peliharaan penduduk desa.

Satu-dua membuat warga mulai bertanya-tanya. Tiga-empat, curiga. Sisanya, mereka berkumpul dan merencanakan siasat untuk menangkap sang pelaku.

Tertangkap.

Hukuman dijatuhkan. Ada yang melemparinya dengan batu, menyayatnya dengan parang, menghunusnya dengan tombak, dan melumurinya dengan minyak-tanah kemudian menyulutnya dengan api sumbu—hingga makhluk itu menjadi arang. Penduduk desa merasa lega. Tunai sudah kekhawatiran akan binatang-binatang ternak di kandang masing-masing.

Tapi, ada yang luput dari pengetahuan warga. Beberapa tahun yang lalu, raseksi telah melahirkan seorang putra.
***

Masih pada waktu yang sangat jauh. Konon, bayi raksasa itu mampu bertahan hidup dan terus tumbuh. Tubuhnya tinggi dan besar, rambutnya panjang berkibar-kibar, dan kulitnya gelap kehijau-hijauan—sebab tempat tinggalnya lembab, menumbuhkan lumut di sekujur kulit arinya. Tak ada yang bisa memastikan di mana tempat-tinggal makhluk besar itu. Namun, menurut kabar angin, ia adalah makhluk—yang konon—gemar dengan daging-daging muda, apalagi perempuan. Dan tidak sedikit yang bilang, ia raksasa pecandu hasrat yang lintang pukang dan terus-terusan membuat gidig bulu kuduk para keluarga yang memiliki anak perawan. Begitu desas-desus yang sudah lama tersiar.

Dan katanya lagi, gadis remaja yang hilang adalah ulahnya. Sebagian besar orang bilang, para pemudi usia belia itu dimakan oleh raksasa.

Bisa jadi demikian...

Sebab, tak banyak jumlah perempuan di desa itu. Hanya beberapa saja, itu pun hanya yang berusia baya. Lebih banyak lelakinya.

Tapi, bukankah setiap makhluk berhak salah—agar tahu mana yang benar? Seperti malam itu, angin tiba-tiba sangat dingin sekali. Saat itulah raksasa merasa kesepian dan sendirian. Tidak biasa-biasanya, ia seperti mendengar ribuan suara perempuan. Hatinya gelisah, dan deg-deg'kan.

Raksasa itu merubah posisi tidurnya: ke kanan dan ke kiri, tapi tidak juga bisa memjamkan mata. Tengkurap, sama saja.

Dibalikkan badannya lagi, kini dalam posisi terlentang, kepalanya yang berada di depan pintu goa. Saat itulah, samar-samar ia melihat-sekilas cahaya purnama. Merasa ada yang aneh, ia duduk. Ia rasa semakin aneh pada dirinya, kemudian ia berdiri, dan keluar mencari asal cahaya.

Di depan pintu goa, yang ia lihat hanya jalan setapak yang terperciki cahaya yang tampak begitu jelas dan terang. Lalu, ia ikuti jalan bercahaya itu hingga pada sebuah air terjun yang sangat deras. Kemudian ia duduk, bersila, merasakan keheningan yang begitu sangat. Suara-suara perempuan di dalam kepalanya—tiba-tiba hilang. Mungkin karena itulah, raksasa itu memantapkan niatnya untuk bertapa.

Waktu berjalan tak terasa.

Mungkin sudah satu tahun, dua, bahkan tiga atau lebih, raksasa itu masih bersendakap. Hingga pada puncak samadinya, seseosok makhluk bercahaya turun untuk membangunkannya dari tapa: “Apa yang hendak kau cari?”

“Entahlah. Mungkin aku hanyakesepian saja.”

“Lalu, apa yang kamu inginkan?”

“Cinta.” Jawab raksasa.

Makhluk bercahaya itu tersenyum, lalu memberikan sebuah biji: “Tanamlah biji ini, maka kamu akan mendapat apa saja yang kamu ingini.”
***

Bertapa dalam waktu yang cukup lama, membuat perutnya terasa sangat lapar. Lalu ia melompat dari tempat yang didudukinya, melesat—mencari binatang buruan hingga di bibir hutan. Tidak ketemu. Ia berhenti, melihat keadaan di sekitarnya.

Tidak disangka, ia mendapati sepasang suami-istri, berusia setengah baya—sedang bercocok-tanam sambil. Kedua pasangan itu berbincang-bincang satusama lain: “Seumpama kita memiliki anak, mungkin hidup kita tidak sesepi ini ya, pak?” kata Si Perempuan.

“Iya, bu. Jika saja kita dapat dikaruniai seorang anak di tengah keluarga kita, aku akan melakukan apapun. Apapun, bu.” timpal Sang Suami.

Mendengar perbincangan haru itu, Raksasa mendekat. Tentu saja, sepasang suami istri itu ketakutan.

“Jangan takut.” kata raksasa.

“Kamu mau apa?”

“Sungguh kamu mau melakukan apapun, jika diberi seorang anak?”

“Tentu saja.” Masih dengan perasaan yang menggigil.

“Ini,“ raksasa menyodorkan sebuah biji, “tanamlah.”

Diterima.

“Tapi, ingat janjimu: kalian akan melakukan apa saja. Sebab, pada usianya yang ke tujuh belas, aku akan menjemputnya.”
***

Sehari setelah peristiwa itu, antara percaya dan tolakan dalam batinnya, mereka akhirnya sepakat untuk menanam biji pemberian raksasa dengan sepenuh harapannya. Ia sirami, pupuki, dan memberinya pagar dari kayu bambu. Dalam waktu yang relatif singkat, biji itu tumbuh dengan baik. Selayaknya usia kehamilan, sembilan bulan dan sepuluh hari, biji itu menjelma buah timun yang menyiratkan cahaya keemasan. Setelah buah terlepas dari tangkainya, sepasang suami-istri itu membelah buah timun—hadiah yang ia terima dari raksasa.

Sret.

Terdengar tangis seorang bayi perempuan. Hitam rambutnya, tembaga warna matanya, dan putih seluruh kulitnya. Dan diberinya nama: Timun Mas.

Dan

Waktu berjalan seperti biasa. Lima belas tahun kini usia gadis itu. Ia tumbuh menjadi remaja yang sangat jelita.

Waktu berjalan lagi.

Genap enam belas usia anak gadisnya, pria sepuh itu pamit kepada anak dan istrinya. Sang istri hanya mengangguk, tak banyak bicara. Sedangkan putrinya, melontarkan banyak sekali pertanyaan.

“Aku ingin bertapa, jagalah ibumu.”

Dan waktu berjalan lagi.

Kurang lebih satu tahun sang bapak pergi bertapa. Hingga menjelang usianya yang ke tujuh belas, kepala rumah tangga itu datang. Alangkah senang anak dan istrinya, mendapati lelaki itu pulang dengan selamat. Kelihatan agak kurus, tapi tampak begitu sehat. Siang itu, mereka memutuskan untuk tidak berladang. Menghabiskan waktu untuk bercengkrama, dan menuturkan banyak sekali cerita. Tak luput, kisah tentang asal-usul Si Timun Mas.

“Ini, nak. Aku membawakanmu lima buah biji, dari hasilku bertapa.”

“Untuk apa, pak?” tanya Timun Mas.

“Pada genap usiamu yang ke tujuh belas, seorang raksasa jahat akan menjemputmu. Larilah, jangan sampai engkau tertangkap. Dan kembalilah kepada kami dengan selamat.“

Timun Mas hanya diam, menyimak setiap tuah bapaknya.

“Pertama,“ lanjut bapaknya, “adalah garam. Benda ini akan menimbulkan samudra jika kau menghempaskannya ke tanah. Dua, biji cabe. Ia akan menjelma menjadi pohon cabe-besar dan penuh dengan duri. Tiga, adalah buah timun. Sesiapa yang memakannya, akan tertidur dengan pulas. Empat, terasi udang. Ia akan menimbulakn lumpur yang akan menarik makhluk di atasnya. Semua benda ini, berguna untuk menghalangi raksasa itu. Jika ia terjatuh ke tanah, ia akan berubah menjadi hamparan yang dapat menghalangi laju raksasa itu.”

“Satu biji lainnya, untuk apa, pak?”

“Satu biji ini, dapat membawamu terbang, melesat ke angkasa. Kamu dapat melakukan apa saja dengan biji ini, termasuk memutar waktu.”
***

Hari yang telah dinantikan telah datang. Raksasa keluar dari goa, menuju bibir hutan—menjemput janjinya.

Bleng... bleng... bleng...

Langkah kakinya terasa dari kejauhan. Semakin lama, makhluk itu terasa dekat. Timun Mas keluar. Kini, di hadapan Timun Mas, berdiri sesosok makhluk besar dengan sorot mata setajam elang. Wanita mana yang tahan dengan mata semacam itu? Dadanya berdegup sangat kencang.

“Siapa namamu?” kata Timun mas.

“Orang menjulukiku, Buto Ijo”

“Sepertinya kamu bukan makhluk jahat, tak seperti kata orang.”

“Biarlah mereka mengenalku seperti itu. Aku memang jahat, dan itu baik. Aku takkan menjadi baik, dan itu tidak jahat. Aku datang kemari, hanya untuk mengambil milikku.”

Layaknya anak berbakti pada umumnya, yang setia dan tunduk pada orang tuanya, Timun Mas perang dalam diam. “Maaf,“ Timun Mas menimpal, “orang tuaku tak memperbolehkanku untuk kau tangkap.”

Sejenak semesta menjadi hening.

“Kalau begitu,“ kata Buto Ijo,  “larilah. Cinta memang tidak boleh dikejar, sebab ia bukan buruan.”

Selepas kalimat terakhir Buto Ijo,Timun Mas lari. Buto Ijo menyusulnya. Mereka berkejar-kejaran. Karena tubuh Timun Mas hanya seukurun manusia biasa, Raksasa itu hampir saja menangkapnya. Segera, Timun Mas mengambil biji cabe, lalu melemparkannya ke tanah. Maka, tumbuhlah pohon-pohon cabe raksasa. Pohon-pohon itu lebih tinggi dari tubuh Buto Ijo. Tak ayal, makhluk besar itu kesulitan untuk lepas dari perangkap, sebab pohon-pohon itu mengeluarkan duri.

Setelah beberapa lama, Buto Ijo akhirnya berhasil keluar. Lalu, dengan sekuat tenaga, Buto Ijo berupaya menyusul ketertinggalannya.

“Kau tidak lelah mengejarku, Buto Ijo?” Timun Mas, Sambil terus berlari.

“Istirahat bisa aku lakukan kapan saja, Timun Mas. Pas kiamat juga bisa.”

Timun Mas tersenyum, dan terus berlari. Tapi, lagi-lagi, ia hampir saja tertangkap. Lalu, ia melemparkan biji dari kantongnya lagi. Biji timun. Bumi terguncang, pohon-pohon timun tumbuh dengan ajaib. Sangat besar, menghalangi langkah kaki sang raksasa. Saking menyemak dan membelukarnya pohon-pohon timun raksasa itu, Buto Ijo memakan semua buah-buah itu. Lalu, ia terlelap pulas. Sedangkan Timun Mas, terus berlari.

Merasa perangkapnya berhasil, Timun Mas menghentikan laju kakinya. Dan, saat itulah, tiba-tiba ada yang hilang di hatinya. Sesuatu yang bergerak, tidak langsung dapat dihentikan. Begitu hukum alamnya. Timun Mas merasa kesepian. Ia akhirnya duduk di atas batu, tidak lari untuk menghindar dari kejaran.

Lama ia duduk, lamat-lama terdengar laju langkah kaki. Raksasa datang. Lalu ia lari menghindar, agar tampak menghindar.

“Kenapa kau berhenti, Timun Mas? Kau menungguku? Kenapa? Merasa kehilangan? Ha-ha-ha...”

Timun Mas tak menggubris. Ia terus berlari kencang, walau alam tahu bahwa ada senyum di bibirnya. Ia terus berlari, namun kali ini Timun Mas benar-benar kelelahan. Ia berupaya sangat keras untuk menghindar: melakukan gerakan zig-zag. Tapi tetap saja, ia hampir tertangkap. Merasa terdesak, Ia mengeluarkan benda pemberian bapaknya dari dalam kantong, lalu melemparkannya. Kali ini, tanah yang kering—lambat laun basah dan menjelma lumpur. Buto Ijo nekat, tetap menerjangnya. Ketika posisi raksasa hijau itu mencapai tengah, pelan-pelan ia tertarik ke dalam lumpur. Buto Ijo tenggelam.

Antara panik bercampur sedih, Timun Mas lari mendekati lumpur. Buto Ijo tak juga muncul. Timun Mas histeris, segala rasa campur aduk jadi satu: menyesal dan menyalahkan diri sendiri. Menyesal, karena ia merasa—dirinyalah penyebab kematian Buto Ijo. Menyalahkan diri, karena ia merasa telah melemparkan benda yang salah. Padahal, bisa saja ia memilih benda yang lain untuk dilempar, atau bahkan tak usah samasekali.

Pada puncak kebimbangannya, Timun Mas mengeluarkan satu benda ajaib dari dalam kantongnya. Ya, benda yang menurut bapaknya dapat melesatkan tubuhnya ke angkasa. Ia lemparkan benda itu, lalu memunculkan selendang yang bercahaya yang melingkar di pinggulnya. Tak begitu lama, ia melesat ke angkasa. Timun Mas berkeinginan memutar waktu, bermaksud kembali ke beberapa saat sebelum Buto Ijo tenggelam. Dengan cara memutari bumi berlawanan dengan arah rotasi, Timun Mas hendak menuju masa lalu. Dia berkeliling selama beberapa kali. Ketika sudah merasa cukup, berada di waktu yang diingkan, Timun Mas turun lagi ke bumi.

Dia sekarang berada di atas batu, duduk, mundur beberapa saat sebelum Buto Ijo ditenggelamkan oleh lumpur.

Lama ia duduk, lamat-lama terdengar laju langkah kaki. Raksasa datang. Lalu ia lari menghindar.

“Kenapa kau berhenti, Timun Mas? Kau menungguku? Kenapa? Merasa kehilangan? Ha-ha-ha...”

Timun Mas menoleh, tersenyum, kemudian lari lebih kencang. Antara percaya dan tidak, ia memeriksa isi kantongnya. Timun Mas merogoh ke dalam. Ternyata, terasi udang yang dapat menjelma menjadi lumpur itu, masih ada di dalam kantong. Ia tak mengambilnya. Tapi, ketika hendak menarik tangannya keluar dari kantong, tak sengaja, garam ajaib, pemberian bapaknya, ikut keluar dan tercecer di atas tanah. Maka, terciptalah laut-samudra. Buto Ijo yang selama ini hidup di gunung, kebingungan ketika berada di tengah-tengah air. Ia berusaha keluar, menggerakkan seluruh tangan dan kakinyan untuk mencapai daratan, tapi ia tidak berhasil. Buto Ijo tenggelam di tengah samudera, dan Timun Mas hanya tertegun menyaksikan pemandangan itu.

Kali ini ia tak histeris, hanya air matanya yang selalu mengalir tanpa henti. Di bibir pantai ia berpikir, bagaimanapun cara menghindarinya, kematian adalah ketetapan yang final. Seampuh apapun kekuatan manusia mempermainkan ruang, juga waktu, kematian ternyata tidak terpengaruh oleh dua faktor itu. Bukan perkara umur atau di mana makhluk itu hidup, sebab kematian memiliki cara sendiri: dia berjalan pada sistem yang tidak senada dengan kaidah kehidupan, dan terus akan menjadi misteri.

Menuju jalan pulang, Timun Mas berusaha mengingat-ingat kata bijak untuk menyurutkan kesedihannya: bahwa rejeki, mati, dan jodoh—bukanlah urusan manusia. Dia mencoba meraba-raba, nasib yang dialami Buto Ijo: jangan-jangan, Tuhan memberikan jatah hidup di dunia ini tidak berdasarkan umur, melainkan berdasarkan jumlah detak jantung. Mungkin saja Buto Ijo diberi seratus juta detak jantung, tapi, seberapapun usia Buto Ijo sekarang, itu akan bergantung kepada sebarapa boros dan hemat Buto Ijo mengolah detak jantungnya. Bisa jadi, karena sering deg-degan atau cemas, jatah detak jantung akan cepat habis, hingga di usia muda—orang meninggal dunia.

Atau...

Beginilah cara Tuhan menciptakan kenangan.  Yakni, menciptanya dari kisah cinta di masa lalu. Tapi, bukankah cinta itu hanya ada sekali, kemudian sisanya, hanya sekadar menjalani hidup?
***

Timun Mas masih memandangi senja di balik jeruji jendela, sedangkan suaminya baru saja membersihkan-badan sesuai keinginannya. Ia mendapati sang istrinya masih termenung, seperti memikirkan sesuatu.

Lalu laki-laki itu mendekat, berbisik di dekat telinga Timun Mas: “Apakah benar, jika seorang perempuan memejamkan mata—ketika sedang bercumbu dengan suaminya, itu berarti si perempuan sedang mengenang mantan kekasihnya?”

Senin, 02 Mei 2016

PAK SAKERA



Hari itu terik, entah kenapa rintik juga datang. Hujan panas, hujan yang panas. Orang bilang, air yang diiringi matahari adalah sebuah pertanda—akan ada tumpas-kelor antar dua ksatria.

Ya, sebagian lesatnya bertubi-tubi menggerimisi seorang lelaki yang sedang menghela napas-panjang di antara pematang dan ladang. Ia seperti mendengar kluruk ayam jago di dasar rongga dadanya sendiri. Siapa yang tak tahu, ia adalah orang baik, sering berbuat baik, dan menginginkan kebaikan. Tapi, memang benar damai itu memiliki pangkal, namun salah satunya adalah perang.

Tanpa alas kaki, ia menusuri jajaran tebu dengan memanggul clurit di pundaknya. Berbaju dan bercelana serba hitam, juga destar pada kepalanya. Kumisnya bapang, hitam kelam dan tebal.

Ialah Sadiman, nama pemberian orangtuanya. Pak Sakera, orang lebih sering menyebutnya. Ia terus berjalan, penuh dengan kemarahan.

Gerimis tengah hari ini sejatinya embun yang terlambat turun, sebab salah seorang ksatria bangun kesiangan. Memangnya, apa yang telah terjadi semalam?
***

“Heh, kamu mau apa?" Aziz terkejut, lehernya dikalungi sebilah clurit oleh seseorang dari arah belakang.

“Gerakanmu makin melambat, Ziz.” Sambil mengendurkan cengkraman tangannya pada leher Aziz.

“Sadiman, kamukah itu?”

“Ha-ha-ha...”

Aziz membalikkan kepalanya, perlahan.

“Ha-ha-ha...” Sakera membujurkan tangannya, lalu disambut Aziz. Mereka berpelukan, erat sekali. Berdua, adalah saudara seperguruan.

“Ada apa kamu datang malam-malam begini? ”

“Aku lari dari kejaran polisi”.

Aziz bergegas menuju ke arah pintu yang masih terbuka. Sambil clingak-clinguk, ia segera menutup pintunya pelan dan sangat rapat. “Kamu yakin," kata Aziz, "ketika datang ke sini—tidak ada yang mengikutimu?”

“Apa yang kamu takutkan, Ziz?”

“Sekarang banyak sekali mata-mata. Banyak sekali bumiputra yang menjadi pengkhianat. Mereka bekerja untuk pemerintah Hindia. Mari, silahkan duduk, nanti kita lanjutkan ceritamu itu.”
***

Malam itu seperti ketawang yang mengalun, air-air menerobos daun-daun, ranting, dahan, batang lalu menggaung di akar. Bergetaran butir tirta kaskaya di tanah, lalu pecah oleh suara bayi laki-laki yang dibawa sepasang suami-istri mlarat dan klungsu di sebuah beranda.

Sang pemilik rumah keluar. Di tuntun oleh anaknya, Sadiman. Perempuan ningrat nan dermawan, berpakaian kebaya, tergopoh-gopoh sambil mengusap-usap matanya: “Na’imah, saudaraku, engkaukah itu?”

“Maukah kamu menolongku, Badriyah?”. Kata Na'imah, tamu perempuannya.

“Apapun, katakanlah.” Jawab Si Pemilik Rumah.

“Aku mohon, asuhlah anak ini. Kami tidak mampu menafkahinya lagi.”

“Siapa nama bayi itu?”

“Kau boleh memanggilnya, Brodin.“
***

Di tangan Badriyah, Sadiman tumbuh menjadi pemuda yang sangat disegani banyak orang—hingga ia dipercaya menjadi mandor di salah satu perusahan ladang tebu. Ia sangat bijak, baik, dan disukai banyak orang. Dari situlah Sadiman dipanggil Pak Sakera, yang berarti orang yang sangat ramah. Sedangkan Brodin, tumbuh menjadi balita yang sangat periang.

Waktu terus berjalan.


Layaknya laki-laki pada umumnya, Pak Sakera pun menikah. Ia menikah dengan perempuan cantik sulaman benang perak: Marlena. Usianya masih sangat muda.

Tidak lama dari peristiwa bahagia itu, Badriyah, ibu Sakera, meninggal dunia. Entah, apakah ini kesedihan yang dipersiapkan untuk Sakera, atau justru nasib Brodin yang selalu ditinggal ibunya. Yang jelas, bagi Brodin, ini adalah peristiwa kehilangannya yang ke dua.

Brodin. Bocah yang belum begitu genap masa dewasanya itu, akhirnya diasuh oleh Sakera. Ia dilatih beladiri, diajak bekerja mengawasi ladang untuk waktu yang cukup lama. Hingga genap kedewasaan Brodin, ia pun tumbuh menjadi lelaki tangguh seperti Sakera. Ia menjadi wakil Sakera dalam berbagai kesempatan.

Awalnya, semua berjalan lancar.

Sampai pada akhirnya, suatu hari selepas masa panen, Sakera bertarung dengan centeng-centeng suruhan pemilik perusahaan yang memaksa warga untuk menjual tanahnya dengan harga murah. Dengan clurit, centeng-centeng itu meregang nyawa. Selepas itu, Sakera lari—walau akhirnya tertangkap dan dipenjarakan kompeni. Tentu saja ini adalah sebuah pukulan untuk banyak orang, terutama Marlena. Di usianya yang masih terlalu muda, ia harus berpisah dengan suaminya.
***

Hari itu terik, entah kenapa rintik juga datang. Hujan panas, hujan yang panas. Sedangkan jauh di bawah langit, di bawah sebuah atap rumah, Brodin terkejut dari tidurnya. Ia melompat, bergegas bangun dari ambin.

“Mau ke mana kau, Din?” kata Marlena yang spontan terjingkat, kaget, reflek, tangan kanannya memegangi lengan Brodin yang tampak panik dan buru-buru.

“Kita kesiangan.”

Marlena bangun, lalu menarik kain sekenanya—yang tercecer di atas ambin—sisa pergulatannya semalam. “Lewat belakang saja, Din.” Kata Marlena.

Klek.. Klek... Kunci pintu dibuka.

Begitu daun pintu terbuka setengah, sudah banyak orang-orang lalu-lalang menuju ke ladang. Melihat dua sejoli yang berada di ambang pintu, seluruh mata mengarah pada pasangan zina itu.

Tentu saja terlalu banyak kabar tak sampai. Mungkin itu sebabnya angin tampak sibuk, kesana-kemari begitu kencang hingga ke telinga Sakera.

Mandor ladang tebu lari dari penjara.

“Marlenaaaaaaaaa....” Sakera mendang pintu, lalu menghancurkan seisi rumah. Sedangkan Marlena hanya beku dan gemetar di sudut ruangan. “Bagaimana ini bisa terjadi, Marlena?”

“Kamu juga tahu, orang yang kukenal-dekat hanya Brodin. Dialah tempatku berkeluh-kesah. Awalnya hanya pembicaraan empat mata. Lalu berlanjut bicara dari hati ke hati. Selanjutnya, siapa yang tahu, yang jelas kami tergoda untuk bermain. Main hati.”

“Tapi kenapa Marlena, kenapa?”.

“Kamu harus tahu, dan mengerti—bagaimana dinginnya malam—ketika ditinggal (suami) sendirian, Sadiman.”

Mendengar pengakuan Marlena, Sakera merah padam. Ia membanting setiap barang yang tersentuh oleh tangannya. Ia mengangkat ambin, lalu membalik dan membantingnya—dan mencari-cari sesuatu yang ternyata adalah sebilah clurit yang berada di bawahnya. Ketemu. Dengan mata yang basah, ia mencari Brodin.

“Diiiiiiin! Keluar!”

Di dalam, ternyata Brodin sudah mempersiapkan dirinya. Ia sedang mengasah cluritnya.

“Din, ago’an poteya tolang, atembbeng poteya mata.” (Din, lebih baik mati, daripada harus menanggung malu.

Enggih, man, sepporannah.” (Iya, [pa]man, maafkan saya.)

“Din, mon lo’ bengal acarok, je’ ngakoh reng Medureh.” (Din, jika tak berani bertarung [carok], jangan mengaku sebagi orang Madura.)

Enggih, man. Oreng lake’ mate acarok, oreng bine’ mate arembbi. Toreh...” (Saya mengerti, paman. Laki-laki mati[nya] carok, orang perempuan mati melahirkan. Silahkan...)

Selepas kalimat terakhir Brodin, Sakera mengayunkan clurit ke arah dadanya, membai-buta. Brodin mundur ke belakang, hingga clurit Sakera tak lagi menjangkaunya. Ketika ayunan itu luput dan mengarah ke bawah, Brodin memajukan kakinya—menyasar wajah Sakera. Dengan sigap, tangan kiri Sakera menghalau serangan tiba-tiba itu.

Tang...

Berkali-kali kedua senjata itu bertemu. Keduanya mundur, lalu maju dengan gerakan yang berbeda. Mundur lagi, dan maju dengan serangan yang berbeda lagi, dan lagi. Begitu seterusnya.

Mungkin karena faktor usia, atau mungkin stamina yang menurun
karena lama di dalam penjara, Sakera tampak kelelahan. Saat itulah Brodin seperti mendapat semangat-lebih untuk menggempurkan serangan lebih rapat dan cepat. Sakera kewalahan. Brodin mengayunkan clurit ke arah kepala Sakera, dengan cepat Sakera menempatkan cluritnya sebelum senjata Brodin.

Tang....

Saking kerasnya, dayakejut dari serangan itu, Sakera terdorong ke belakang—hingga tersudut di sebuah pohon besar. Kesempatan itu tidak disia-siakan Brodin. Ia mengarahkan cluritnya lagi ke arah leher, Sakera menahannya. Saling dorong terjadi. Hampir saja clurit Brodin menyentuh kulit Sakera. Wajah mereka saling berhadapan, jarak mereka sangat dekat dan masih saling dorong dengan sekuat tenaga.

Kehabisan nafas.

Dalam desah, Brodin mendengar Sakera menyebut nama ibunya: Badriyah. Sebuah nama yang seumurhidupnya—tidak mungkin dilupakannya. Brodin menarik napas, namun setarikan napas itu sudah cukup untuk Sakera mendorong Brodin dan dilanjutkan—mengayunkan clurit ke arah leher musuhnya.

Thel...
***

“Sadiman, saudara seperguruanku. Sampai hari ini, aku belum pernah membunuh seorangpun. Sedangkan kamu, sudah sering melakukannya. Apakah kamu tidak merasa dihantui orang-orang yang telah kamu bunuh itu?” tanya Aziz.

“Tidak. Sebab apa yang aku lakukan bukanlah kejahatan-pembunuhan. Jadi, seusai bertarung, aku meminum darah musuhku—yang masih tertempel di cluritku. Begitu caranya agar kau tak dihantui.”

“Hmmm... bagaimana rasanya?”

“Ya seperti darah manusia.”

“Lalu?”

“Dengan clurit ini juga, aku membunuh kompeni-kompeni yang memeras darah warga.”

“Kamu bawa senjata itu ke mana-mana?”

“Tentu saja. Kamu harusnya tahu, tulang rusuk sebelah-kiri seorang laki-laki itu kurang satu, maka clurit adalah pelengkapnya. Keadaan yang carut-marut seperti sekarang ini, tidak bisa kita serahkan semua persoalan kepada Tuhan. Ada hal-hal yang harus kita selesaikan sendiri, itu kenapa kita butuh clurit, Ziz.”

“Iya. Tapi kamu juga perlu tahu situasi sekarang ini, bahwa para pengkhianat berkeliaran di mana-mana. Dan juga, banyak mata-mata suruhan polisi yang bertebaran di segala penjuru. Mereka sengaja dipelihara, untuk mengawasi orang-orang semacam kamu. Karena bagi pemerintah, kamu orang yang bersalah dan melanggar hukum.”

“Aku melanggar apa?”

“Kamu membunuh polisi, dan Brodin.”

“Satu, mereka berbuat seenaknya kepada rakyat dengan merampas tanah. Jika dalam membela mereka—aku disalahkan, aku tidak peduli. Karena benar atau salah, ini adalah tanah airku. Dua, kamu percaya dengan hukum kompeni? Bagaimana cara mereka menghukum orang yang telah mengganggu rumahtangga kita? Atau bahkan merusak rumahtangga kita?”

Aziz hanya diam.

“Mengganggu istri orang, bagi orang Madura, adalah pelanggaran besar yang tidak bisa dimaafkan. Tapi bagi pemerintah, itu hanya masalah kecil yang hukumannya ringan. Kamu kan orang Madura juga, bagaimana cara menebus rasa malu? Carok, Ziz, Carok.”

“Baik, aku sangat mengerti perasaanmu, kawan. Tapi aku minta maaf, aku harus menangkapmu.”

Polisi-Kompeni berdatangan dari segala sudut ruangan, mengarahkan bedil ke arah Sakera.

BANDUNG BONDOWOSO



Roro Jonggrang sesenggukan di samping jasad ayahnya. Gadis itu menangis tiada henti, air matanya meleleh di pinggir hidungnya yang mbangir, lalu ke dagu, kemudian menetesmembasahi rumput melubangi batu.


Dia masih menangis. Air matanya deras, keluar dari hidungnya, telinganya, mulutnya, pori-pori di sekujur tubuh putihnya; hingga membasuh genangan darah yang membercaki tanah-lapang gelanggang perang.



Dia masih saja menangis. Mengacuhkan ribuan pasukan yang sibuk menyingkirkan jasad para kawan, atau bahkan mungkin musuh Ayahnyayang tertusuk, tertombak, teriris dan terpanah di sekujur tubuh-tubuh kaku tak bernyawa.


Dia belum bisa berhenti menangis. Air matanya deras, keluar dari hidungnya, telinganya, mulutnya, pori-pori di sekujur tubuh putihnya; hingga menggenang sampai batas mata kakinya. Lalu lutut, bahu, hingga banjir dan tenggelam—ia dalam kenangan semasa ayahnya masih hidup dan mengudangnya.


Sampai pada akhirnya, tangisnya terhenti tatkala sebuah tangan menyentuh pundaknya. Dialah Bandung, cintanya sebesar gunung.


“Cahayu," kata Bandung,  "masuklah. Hari sudah larut.”




Tanpa sepatah kata, Jonggrang berdiri, bergegas yang disusul oleh sadarnya: bahwa jasad ayahnya sudah tidak ada. Hanya saja dari kejauhan, samar-samar ia melihat tumpukan manusia yang segera menyala oleh sebab api. Seluruh wilayah Boko dikepung oleh asap hitam dan aroma daging yang terbakar—diiringi isak tangis perempuan-perempuan dan anak-anak yang menyaksikan suami atau bahkan bapakknya—dikremasi dengan cara masal dari jarak pandang yang cukup dekat.
***


Hari yang berjenazah itu telah lewat beberapa hari yang lalu. Tapi, masih saja Jonggrang mendengar—gelegar tawa ayahnya yang membentur dinding-dinding kamarnya, dan tak lama bunyi itu menjelma menjadi bercak-bercak darah yang memudar di setiap sudut tembok istana.


Seperti yang sudah-sudah, Jonggrang hanya termenung di sebalik jendela: tak menghiraukan Bandung yang berbaik hati—datang membawakan sarapan untuknya. Menjelang senja, Bandung datang lagi, membawakan makan malam untuk Jonggrang. Begitu seterusnya. Tapi, tak pernah sekalipun Bandung dihiraukan. Walaupun demikian, lelaki samapta itu tak pernah ambil pusing. Sebab ia memiliki pengikut yang setia: Jin-jin yang berasal dari hutan, yang ia taklukkan—kemudian bersumpah untuk mengabdi kepadanya. Jin-jin itu pulalah yang membantunya—memenangkan pertarungan melawan Prabu Boko yang seorang raksasa.


Hingga pada sebuah titik.


Telah berhari-hari Bandung mengatasi sepi hatinya, tapi senja itu adalah puncaknya. Akhinya, Bandung membemberanikan dirimengetuk pintu kamar Jonggrang.


Tok... tok... tok...


Suara pintu terdengar pelan.


“Ya, ada apa Prabu Bandung?”


“Saat menjelang gelap seperti ini, ada cita rasa pulang yang mengalir dalam udara pelan, Jonggrang”.


“Bukankah setelah kau mengalahkan ayahku, Prabu Boko, istana ini telah menjadi milikmu? Kau hendak pulang ke mana?”.


“Tentu ke dalam dirimu!”


“Kau ingin memasukiku, di atas semua puing dan kerusakan ini?”


“Air mata lebih kuat dari tawa, Jonggrang. Cinta yang sewajarnya, menghedaki kita yang setegar-tegarnya”.


“Bukankah kau bisa melakukan apappun dengan kekuatanmu, tanpa harus meminta izinku terlebih dahulu?"


“Aku tidak akan menyentuhmu, sebelum kau jatuh cinta!”


“Tapi kau telah membunuh ayahku?!”


“Maafkan aku, jika pualam yang terbit di keningmu masih sedingin nisan. Seorang ksatria memiliki jalan hidupnya sendiri. Begitulah cara kami menghormati lawan, yakni dengan cara bertanding di gelanggang.”


“Kalau begitu, kau harus menunggu dengan waktu yang cukup lama. Setidaknya, sampai hujan menjadi kering di telaga kelopak mataku”.


Please... aku telah menunggu lama untuk saat seperti ini”


“Sejak kapan?”.


“Semenjak namamu tersiar, bertebaran di udara.”


Hheh...” Jonggrang nyingkur, membalik badan—membelakangi Bandung Bondowoso.


“Aku merindukanmu hingga puncak ‘alamul amri. Lebih tinggi dari sidrat al-muntahā.


“Kau memang pintar bicara. Memangnya, apa rindu itu? Dasar perayu!”


“Rindu itu ‘Ra’ diwulu, 'Na', pasangan ‘Dha’ disuku. Wulu itu rambut, suku itu kaki. Berdua adalah pasangan ganjil yang saling menggenapkan. Seperti kita, Jonggrang”.


“Baik. Tapi ada syaratnya, wahai pria kencana...”


“Kau ingin menakar cintaku?”


“Buatkan aku seribu candi!”


“Jika itu permintaanmu.”


“Dalam satu malam, Bandung.”
***


Setelah matahari tenggelam sempurna, dan cahaya setiap ruang digantikan oleh obor-obor, Bandung Bondowoso menuju sanggar pamujan. Bersemedi, menggambar (site plan) bangunan yang akan ia dirikan untuk pujaan hatinya. Setelah selesai, ia membuka mata—dan seluruh jin-jin sudah siap di hadapannya.


“Buatkan aku seribu candi," perintah Bandung, "yang setiap keping batunya tertulis namanya. Buatkan aku seribu candi, dalam waktu satu malam.”


Dalam sekejap, jin-jin itu menjelma menjadi lesatan cahaya puspawarna. Ada merah, biru, kuning, hijau, dan banyak lagi. Sungguh pemandangan yang begitu indah. Sedangkan disebalik jendela, mata Jonggrang mengintip. Ia tersenyum, sembari menggigit bibirnya. Tentu saja Jonggrang merasa tersanjung. Perempuan mana yang tak berbahagia, jika namanya diabadikan di atas benda seabadi batu?


Cahaya itu terus berlesatan.


Dan, jauh sebelum pagi, seribu candi hampir rampung. Seribu kurang satu. Satu bangunan itu sebenarnya sudah sempat selesai, tapi Bandung memerintahkan pasukan lelmbutnya untuk membongkarnya. Jadi, bongkar. Jadi lagi, bongkar lagi. Merasa akan berhasil, Jonggrang mempersiapkan dirinya untuk dipinang Bandung. Ia menuju pemandian yang telah ditaburi seribu bunga. Ia perintahkan seluruh pelayan, mempersiapkan baju yang paling megah untuk ia kenakan.


“Bongkaaaaarrr”


“Mohon ampun sinuwun. Sebaiknya, Gusti Bandung yang membuat bangunan itu sendiri. Ini sudah ke seratus kalinya kami membangun, lalu dibongkar lagi, dan lagi.”


“Baik. Kalian semuanya berhenti!”


Cahaya warna-warni yang berlesatan di udara itu berangsur redup. Kini mereka berdiri melingkar—mengitari candi yang akan di bangun oleh Bandung dengan tangannya sendiri. Mereka masih dengan warna yang beragam.


Disebalik tanah lapang, seluruh penduduk menanti. Kebanyakan dari mereka adalah perempuan, janda-janda yang ditinggal mati suaminya—yang kalah melawan Kerajaan Pengging yang dipimpin Bandung Bondowoso. Entah siapa yang memulainya, satu per-satu wanita-wanita itu memukul alu, dan sebagian membakar jerami. Langit memerah, ayam-ayam jantan gelisah. Kemudian, kokok itu mulai bersahut-sahutan. Mendengar suara kluruk, dan langit yang tampak bercahaya, jin-jin itu tunggang langgang. Kecuali satu.


“Pergilah! Kini kau telah aku bebaskan. Ini sudah menjadi urusanku.” kata Bandung kepada Jin Merah.


“Tapi, Gusti...”


“Sudahlah, pergilah...”. Bandung sambil penepuk-nepuk bahu Jin yang setia itu.


Melihat sorot mata Bandung, Jin Merah akhirnya mengalah. Ia merapatkan telapak tangan di depan wajahnya, tanda sembah terakhirnya. Seper-sekian detik Jin Merah menundukkan badan, tiba-tiba ia menghilang bersama udara. Sedangkan Bandung, melanjutkan tugasnya. Cukup lama, yang kemudian disusul oleh langit yang berangur-angsur terang sempurna. Tapi, candi itu masih belum sempurna.


Bandung terus mengangkat, dan  menumpuk batu-batu. Tak peduli langit telah biru, dan terang.


Di tengah kesibukan Bandung, dari arah belakang, Jonggrang datang, lengkap dengan baju kebesaran. Wangi bunga setaman yang menempel di tubuh Jonggrang, tertiup angin—lalu sampai ke hidung Bandung. Lelaki itu berhenti.


“Kau gagal, Bandung.” Suaranya Jonggrang bergetar, dengan mata yang berkaca-kaca.


Bandung hanya tersenyum.


“Bandung, kau gagal...” mata Jonggrang menangis.


“Jonggrang, Bapakku, Prabu Damar Moyo, selalu berpesan kepadaku: Laki-laki ialah yang selalu menepati janjinya dan menyelesaikan apa yang telah ia awali. Tentu aku tak bisa berhenti sebelum lunas janjiku kepadamu.”


“Maka lakukanlah, Bandung, lakukan.” Jonggrang tersenyum, diiringi hujan di setiap sudut matanya.


Setelah kalimat terakhir Jonggrang, angin bertiup kencang. Langit tiba-tiba mendung, dan sesekali kilat bersambaran. Debu-debu berterbangan, daun-daun kering melayang-layang.


“Jonggrang, biarlah cintaku sebagai genapnya. Kucandikan kau, cintaku sekekal batu!”


Tak lama, setelah sabda mendarat di kulit semesta, kaki Jonggrang dikerubungi pasir dan debu-debu. Ia terus naik hingga menutupi seluruh tubuh Jonggang. Lalu, debu dan pasir itu menebal, mengeras, dan membatukan Jonggrang. Disusul dengan bumi yang bergoyang-boyang, batu-batu candi bermunculan dari tanah. Terus dan terus, hingga membentuk sebuah candi yang amat megah dan indahatas nama cinta.
***


Setelah kejadian itu, tidak ada yang tahu Joko Bandung atau Bandung Bondowosoberada di mana. Ada yang bilang, Bandung pergi ke sebuah negeri yang sangat jauh. Ada yang Bilang, Bandung bertapa hingga moksa. Ada juga yang bilang, Bandung kembali ke Pengging dan menjadi raja tanpa seorang permaisuri.


Dan...


Tidak sedit yang bilang, Bandung sering terlihatdatang ke candi itu dengan membawa dupa dan juga bunga. Saksi itu bilang, ia datang sendirian di malam hari, bahkan hampir setiap malamdan setiap kedatangan Bandung—seakan langit sedang purnama. Katanya lagi, setiap kali Bandung datang, Ia selalu mengawalinya dengan menyalakan dupa, lalu untuk beberapa waktu yang cukup lama—ia bersemedi, dan diakhiri dengan menaburkan bunga di kaki patung Roro Jonggrang. Itu terjadi hingga bertahun-tahun lamanya.


Sampai pada suatu malam yang gerimis, salah seorang warga melihat sesosok lelaki tertunduk di depan pintu gerbang candi. Seperti yang sudah-sudah, ia bersujud untuk waktu yang cukup lama, dan terdengar isak yang teramat rindu dan perih. Keesokan harinya, tersiar kabar bahwa Bandung Bondowoso telah tiada.